SATE MARANGGI
Sate Maranggi adalah sate khas Purwakarta, Jawa Barat biasanya terbuat dari daging kambing atau daging sapi. Namun ada juga yang berpendapat bahwa sate maranggi berasal dari Cianjur.
Penjaja sate maranggi dapat ditemukan hampir di setiap sudut Purwakarta, sebagian menajajakan dengan cara berkeliling. Yang membedakan sate maranggi dengan sate lainnya adalah bumbunya terbuat dari kecap yang memiliki cita rasa paduan manis, asam, dan pedas yang menyentuh lidah kala menikmati sate berbumbu khas ini. Paduan rasa yang menggoda selera ini muncul karena bumbu sate maranggi terbuat dari kecap, sambal cabai hijau ditambah sedikit cuka lahang (cuka yang terbuat dari tebu). Saat disajikan, bumbu kecap itu dilengkapi dengan irisan bawang merah dan tomat segar.
Biasanya sate maranggi dihidang dengan ketan bakar atau nasi timbel. Namun di Indonesia bukan hanya Sate Manggarai saja di Indonesia berbagai macam satepun ada diantaranya sate yang terbuat dari bahan daging yakni sate kambing, sate daging sapi, sate daging ayam , sate daging kelinci dan sebagainya. Ciri khas dari sate tersendiri itu di tusuk cara penyajiannya dibakar terlebih dahulu dan di tambah bumbu dalam hal ini biasanya memiliki dua sambal yakni ada sambal kacang dan samal kecap. Dalam harga pun berbeda-beda yah tergantung dari satenya namun biasanya harga yang paling mahal yakni sate daging sapi dan yang harga biasa biasanya sate daging ayam ataupun kelinci. Tidak sussah untuk menjumpai penjual aneka macam sate ini apalagi di indonesia . menjadi hal yang paling mengasyikkan ketika memakan sate bersama makanan sate ini bisa di konsumsi atau dihidangkan untuk acara keluarga juga dan sebagai menu pelengkap. Dari situlah sate sangat digemari oleh seluruh masyarakat indonesia mulai dari kalangan anak-anak sampai usia lanjut.
TAHU SUMEDANG
Tahu Sumedang dalam keranjang bambunya yang khas Sejarah Bermula dari kreativitas yang dimiliki oleh istri Ongkino, yang memang semenjak awal sebagai orang yang pertama kali memiliki ide untuk memproduksi Tou Fu (dari bahasa Tionghoa, Hokkian “tau hu”, yang berarti sama) yang lambat laun menjadi berubah nama menjadi “Tahu”.
Tahun demi tahun, Ongkino beserta istri tercinta terus menggeluti usaha mereka hingga sekitar tahun 1917 anak tunggal mereka Ong Bung Keng menyusul kedua orang tuanya ke tanah Sumedang. Bung Keng kemudian melanjutkan usaha kedua orang tuanya yang sampai keduanya memilih kembali ke tanah kelahiran mereka di Hokkian, Republik Rakyat Cina.
Melalui alih generasi Ong Bung Keng, anak tunggal Ongkino, terus melanjutkan usaha yang diwariskan dari kedua orang tuanya hingga akhir hayatnya di usia 92 tahun. Di balik kemasyhuran tahu Sumedang ada pula kisah yang berbau mistik, seperti apa yang diceritakan cucu dari Ongkino, Suryadi. Sekitar tahun 1928, konon suatu hari tempat usaha sang kakek buyutnya, Ong Bung Keng, didatangi oleh Bupati Sumedang, Pangeran Soeria Atmadja yang kebetulan tengah melintas dengan menggunakan dokar dalam perjalanan menuju Situraja.
Kebetulan, sang Pangeran melihat seorang kakek sedang menggoreng sesuatu. Pangeran Soeria Atmadja langsung turun begitu melihat bentuk makanan yang amat unik serta baunya yang harum. Sang bupati, Pangeran Soeria Atmadja kemudian bertanya kepada sang kakek, “Maneh keur ngagoreng naon? (Kamu sedang menggoreng apa?)”. Sang kakek berusaha menjawab sebisanya dan menjelaskan bahwa makanan yang ia goreng berasal dari Tou Fu China. Rasanya mempunyai ciri tersendiri dan dari hargapun tidak mahal. Karena penasaran, sang bupati langsung mencoba satu. Setelah mencicipi sesaat, bupati secara spontan berkata dengan wajah puas, “Enak benar masakan ini! Coba kalau kamu jual, pasti laris!”.Tak lama setelah kejadian ini, Tahu Sumedang digemari oleh penduduk Sumedang dan kemudian sampai ke seluruh Indonesia

